SULUTVIRAL.INFO – Wali Kota Manado Andrei Angouw meninjau Lapangan Bantik di Kelurahan Malalayang Satu pada 24 Februari 2026. Ia menegaskan kawasan ini harus menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Bantik.
Ia tidak sekadar melihat hasil penataan fisik. Ia juga menekankan makna historis dan kultural yang melekat pada kawasan tersebut. Menurutnya, ruang publik harus menghadirkan nilai, bukan hanya estetika.
“Saya ingin Lapangan Bantik menjadi ruang bersama yang menguatkan jati diri masyarakat,” ujar Andrei Angouw saat berdialog dengan warga.
Ia menyapa masyarakat sekitar dan berinteraksi dengan anak-anak sekolah. Ia juga mendengarkan aspirasi warga terkait pemanfaatan lapangan sebagai ruang kegiatan adat dan sosial.
Lapangan Bantik dan Penguatan Identitas Lokal
Penataan Lapangan Bantik menghadirkan patung Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi sebagai ikon utama kawasan. Kehadiran patung tersebut mempertegas nilai sejarah yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, pemerintah menghadirkan taman bermain anak agar keluarga dapat menikmati ruang terbuka secara nyaman. Dengan demikian, lapangan ini menyatukan unsur sejarah, budaya, dan rekreasi dalam satu kawasan.
Andrei menilai ruang publik seperti ini harus memperkuat identitas lokal di tengah perkembangan kota. Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat Bantik memanfaatkan lapangan sebagai pusat kegiatan adat dan budaya.
Langkah ini sejalan dengan berbagai gerakan pembenahan lingkungan kota, termasuk program Gerakan Asri Pesisir yang mendorong warga menjaga kawasan pesisir tetap bersih dan tertata. Pemerintah ingin menghadirkan wajah kota yang modern tanpa meninggalkan akar budaya.
Dengan pendekatan tersebut, Lapangan Bantik tidak hanya berfungsi sebagai ruang olahraga. Lapangan ini juga hadir sebagai ruang ekspresi budaya dan ruang pertemuan komunitas.
Ruang Publik sebagai Pusat Aktivitas Adat
Andrei mengajak tokoh masyarakat dan perangkat kelurahan untuk menghidupkan Lapangan Bantik melalui kegiatan positif. Ia mendorong penyelenggaraan kegiatan adat Bantik, pentas seni, serta aktivitas sosial yang membangun kebersamaan.
Menurutnya, ruang terbuka harus menjadi titik temu lintas generasi. Anak-anak belajar sejarah, orang tua menjaga tradisi, dan pemuda mengembangkan kreativitas.
Camat Malalayang Yusuf Kopitoy yang turut mendampingi kunjungan menyatakan komitmen untuk menjaga dan mengaktifkan kawasan tersebut. “Kami akan mengajak seluruh elemen masyarakat memanfaatkan lapangan ini secara positif,” ujarnya.
Selain memperkuat identitas budaya, pemerintah juga terus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Sinergi tersebut tampak dalam berbagai program strategis seperti sinergi Pemkot Manado Imigrasi yang menunjukkan komitmen pemerintah membangun kota secara terintegrasi.
Dengan semangat kolaborasi itu, Lapangan Bantik diharapkan menjadi contoh ruang publik yang hidup karena partisipasi masyarakat.
Identitas Budaya di Tengah Modernisasi Kota
Perkembangan kota sering kali mendorong perubahan cepat dalam tata ruang dan gaya hidup. Namun Andrei menekankan bahwa modernisasi tidak boleh menghapus identitas lokal.
Ia melihat Lapangan Bantik sebagai simbol keseimbangan antara kemajuan dan tradisi. Penataan kawasan memberi wajah baru yang rapi dan estetik, tetapi tetap menjaga nilai sejarah yang melekat pada masyarakat Bantik.
Pemerintah Kota Manado juga terus menghadirkan berbagai fasilitas modern di ruang publik. Upaya itu terlihat dalam pengembangan infrastruktur ramah lingkungan seperti SPKLU Manado Mantos yang mendukung transformasi kota menuju era kendaraan listrik.
Dengan pendekatan tersebut, Manado sebagai ibukota Sulawesi Utara tumbuh sebagai kota modern yang tetap berpijak pada budaya lokal.
Andrei kembali mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan dan ketertiban Lapangan Bantik. Ia menegaskan bahwa pemerintah menyediakan fasilitas, tetapi masyarakat menentukan keberlanjutan manfaatnya.
Ia percaya identitas budaya akan semakin kuat ketika masyarakat merawat ruang publik secara bersama. Karena itu, ia mengajak warga menjadikan Lapangan Bantik sebagai ruang kebanggaan, ruang belajar sejarah, dan ruang persatuan.
Kunjungan ini turut dihadiri Lurah Malalayang Satu, para Ketua Lingkungan, serta pejabat teknis terkait. Kehadiran mereka memperkuat komitmen bersama untuk menjadikan Lapangan Bantik sebagai simbol identitas dan kebersamaan warga Manado.
