SULUTVIRAL.INFO – Suasana bahagia dan haru menyelimuti kedatangan pengungsi Gunung Ruang saat pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Sejak awal, Bolsel tidak memosisikan diri sebagai sekadar lokasi relokasi, melainkan rumah baru bagi warga yang harus meninggalkan kampung halaman demi keselamatan. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe mengawal relokasi ini dengan pendekatan kemanusiaan dan keberlanjutan hidup.
Sejalan dengan itu, warga Bolsel menyambut para pengungsi dengan sapaan penuh empati, “Selamat Datang di Bolsel.” Sambutan hangat tersebut memberi rasa aman sekaligus menguatkan mental para pengungsi yang baru saja melewati fase sulit akibat erupsi. Dengan demikian, proses relokasi langsung membangun ikatan sosial sejak hari pertama.

Bolsel Diposisikan sebagai Rumah Baru, Bukan Sekadar Titik Pindah
Sejak para pengungsi tiba, masyarakat Bolsel menunjukkan kesiapan sosial untuk hidup berdampingan. Selain itu, pemerintah daerah memfasilitasi penerimaan warga baru secara terbuka dan bermartabat. Pendekatan ini menegaskan bahwa relokasi tidak berhenti pada urusan teknis, tetapi berlanjut pada pemulihan kehidupan.
Lebih jauh, arah kebijakan daerah Bolsel menempatkan pelayanan publik dan penguatan tata kelola sebagai fondasi penerimaan warga baru. Oleh sebab itu, konsistensi kebijakan daerah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial, sebagaimana tercermin dalam langkah strategis penataan ASN Bolsel yang berorientasi pada penguatan institusi dan kualitas layanan masyarakat.
Data Resmi Jadi Dasar Relokasi Terukur dan Bermartabat
Berdasarkan data resmi BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro, total warga yang direlokasi mencapai 845 jiwa dari 282 kepala keluarga. Oleh karena itu, Pemkab Sangihe menjadikan data ini sebagai dasar kebijakan relokasi yang terukur, tertib, dan berkeadilan. Selain itu, pemerintah memastikan seluruh tahapan berjalan aman dan terkendali.

Pada kloter pertama, Pemkab Sangihe memberangkatkan 94 kepala keluarga atau 217 jiwa dari Desa Pumpente serta 40 kepala keluarga atau 91 jiwa dari Desa Laingpatehi. Setibanya di Bolsel, raut wajah haru tampak jelas saat para pengungsi turun dari kendaraan dan menerima sambutan hangat dari pemerintah daerah serta masyarakat setempat.
Koordinasi Lintas Daerah Pastikan Transisi Kehidupan Berjalan Baik
Selanjutnya, Pemkab Sangihe memperkuat koordinasi lintas daerah dan lintas instansi guna memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi. Dengan demikian, relokasi tidak berhenti pada pemindahan fisik, tetapi berlanjut pada pemulihan kualitas hidup melalui layanan kesehatan, hunian layak, dan integrasi sosial.
Upaya ini sejalan dengan langkah penanganan dan pemulihan pascabencana di wilayah Kepulauan Sitaro. Pemerintah daerah sebelumnya telah menuntaskan fase tanggap darurat dan bergerak menuju pemulihan terarah, sebagaimana tercermin dalam agenda penanganan pascabencana Sitaro.
Relokasi Jadi Awal Kehidupan Aman dan Bermartabat
Di Bolsel, pemerintah daerah terus menyiapkan dukungan jangka menengah dan panjang bagi para pengungsi. Pemerintah memastikan relokasi berjalan seiring dengan kesiapan hunian tetap, layanan dasar, serta penerimaan sosial yang berkelanjutan. Komitmen ini sebelumnya juga mengemuka dalam koordinasi lintas kementerian terkait hunian tetap penyintas Gunung Ruang.
Pada akhirnya, kehadiran pengungsi Gunung Ruang di Bolsel menandai awal kehidupan baru yang lebih aman dan bermartabat. Dalam semangat solidaritas dan kebersamaan, Bolsel tidak hanya membuka wilayahnya, tetapi juga membuka hati, menjadikan para pengungsi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat setempat.

