SULUTVIRAL.INFO – Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Oskar Manoppo menghadiri Upacara Adat Tulude dan Ibadah Syukuran Tulude di Desa Jiko Bersatu, Kamis (5/2/2026). Kehadiran ini menegaskan komitmen pemerintah daerah menjaga budaya sebagai perekat persaudaraan.
Bupati hadir bersama Ketua TP-PKK Boltim Ny. Rosita Manoppo-Pobela. Sejak awal, masyarakat menyambut rombongan dengan prosesi adat yang khidmat dan terbuka.
Selain menjadi perayaan budaya, Tulude juga menjadi ruang perjumpaan lintas latar belakang. Oleh karena itu, momentum ini memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat Boltim yang majemuk.

Tulude sebagai Tradisi Syukur Masyarakat Nusa Utara
Adat Tulude merupakan tradisi tahunan masyarakat Nusa Utara, meliputi Sangihe, Talaud, dan Sitaro. Tradisi ini mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perjalanan hidup selama satu tahun.
Selain itu, Tulude menjadi simbol melepas tahun lama dan menyambut tahun baru. Masyarakat memaknainya sebagai awal baru yang penuh harapan.
Sejalan dengan itu, semangat Tulude terus hidup di berbagai daerah Sulawesi Utara. Nilai yang sama juga tampak dalam perayaan Tulude 2026 di Bitung yang menegaskan identitas budaya Nusa Utara.
Prosesi Adat Sarat Makna Kebersamaan
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan adat. Tokoh adat kemudian menyerahkan kue adat tamo kepada Bupati Boltim sebagai simbol penghormatan.

Puncak acara berlangsung saat pemotongan kue tamo. Prosesi ini menjadi inti sakral dalam perayaan Tulude. Masyarakat mengikuti setiap tahapan dengan penuh khidmat.
Kue tamo memiliki makna spiritual mendalam. Proses pemotongannya melambangkan penyatuan doa dan harapan seluruh komunitas adat.
Bupati: Budaya Menyatukan Perbedaan
Dalam sambutannya, Bupati Oskar Manoppo menegaskan bahwa Tulude mencerminkan indahnya keberagaman budaya di Boltim.
“Hari ini menjadi bukti betapa indahnya keberagaman budaya yang hidup di daerah kita,” ujar Oskar Manoppo.
Ia menambahkan, meski Tulude berasal dari Nusa Utara, tradisi ini kini tumbuh sebagai bagian dari identitas Boltim.
“Perbedaan suku dan latar belakang bukan penghalang, tetapi kekuatan yang menyatukan kita,” lanjutnya.
Pemkab Boltim Rencanakan Tulude Lebih Besar 2027
Lebih lanjut, Bupati Oskar Manoppo menyampaikan rencana pemerintah daerah. Pemkab Boltim menargetkan perayaan Tulude yang lebih besar pada tahun 2027.
Pemerintah berencana memusatkan kegiatan di Kantor Bupati Boltim. Langkah ini bertujuan memperluas partisipasi masyarakat dan ASN.
Dengan demikian, nilai budaya Tulude dapat dikenal lebih luas. Pemerintah ingin memastikan tradisi ini tetap hidup lintas generasi.

Warga Rasakan Nilai Persaudaraan
Masyarakat merasakan langsung makna kebersamaan dalam perayaan ini. Maria Kambey, warga Desa Jiko Bersatu, mengaku Tulude menghadirkan rasa persaudaraan yang kuat.
“Tulude membuat kami merasa satu keluarga, meski berasal dari latar belakang berbeda,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran bupati memberi semangat tersendiri. Warga merasa tradisi mereka dihargai dan dijaga bersama.
Tarian Adat Tutup Perayaan Penuh Kehangatan
Acara ditutup dengan tarian adat Ampa Wayer dan Masamper. Masyarakat tampil bersama bupati dalam suasana hangat dan meriah.
Nuansa ini mencerminkan harmoni antarwarga. Tradisi adat menjadi jembatan persaudaraan yang terus terawat. Semangat serupa juga terlihat dalam Tulude Sangihe.
Upacara ini turut dihadiri unsur Forkopimda Boltim, Sekda M. Iksan Pangalima, anggota DPRD, pimpinan OPD, serta tenaga ahli bupati. Pemerintah daerah menegaskan komitmen menjaga budaya daerah sebagai fondasi persatuan.
